Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Juni 2009

Michael Jackson - the Making of the King of Pop

0 komentar

Born:

August 29, 1958 in Gary, Indiana

Died:

June 25, 2009 in Los Angeles, California

Overview:

As a young child, Michael Jackson had cultivated stardom as a singer and performer with the Jackson Five before he reached double digits in age. In the '70s he remained a stalwart member of that group, becoming an ever more central figure in its continuing success. And although he began to step out as a solo artist during the '70s, Jackson did not truly become a full-fledged star until the '80s, the decade he personified, defined and ruled so completely.

An Off-the-Wall Transition to Solo Star:

If Thriller was Jackson's magnum opus, then 1979's Off the Wall was certainly a pretty hefty masterpiece in its own right. With this smash hit record, Jackson not only proved he was capable of sustaining his own, independent career; he showed that not even the sky was the limit. "Don't Stop 'Til You Get Enough" is an absolutely exhilarating tune, employing elements of disco with great skill but succeeding much more completely through Jackson's masterful approach to various pop music styles.

Quite a Thrill & Still the Biggest-Selling Album of All Time:

At nearly 60 million albums sold worldwide, Michael Jacksons 1982 masterpiece, Thriller, retains its title as the biggest-selling record of all-time. Those numbers are evidence of the music's continuing popularity but also just how big a hit the album was upon its initial release, during which some two-thirds of these sales occurred. The music from this record was omnipresent from 1982 through 1984, and ultimately the album yielded seven Top Ten pop hits culled from its nine-track total.

With Success Comes Publicity, and then More Publicity:

As the mid-'80s arrived, Jackson had become arguably the biggest star in the world. As such, press paid close attention to his every move, of which there were many. In the wake of Thriller, Jackson ruined his friendship with Paul McCartney when he outbid the former Beatle for control of many of the band's songs. He also famously suffered burns when his hair caught on fire filming a Pepsi commercial. And in 1985, he was a major force in recording the massive "We Are the World" charity single.

Michael Jackson Still Huge Despite Relative Career Decline:

Looking at the sales of Bad, Jackson's follow-up to Thriller released in 1987, it certainly didn't look like his star was on the wane. Nonetheless, despite four No. 1 singles and multi-platinum sales, the album was received more coolly than Thriller. Worse, Jackson increasingly got noticed less for his music and more for his drastically changing appearance or outlandish rumors that he tried to buy the Elephant Man's bones. Around this time Jackson's disparaging nickname, Wacko Jacko, surfaced.

The '90s and Beyond - More Controversy, Legal Troubles & Reduced Relevance:

Jackson entered the '90s as the biggest pop star in the world, but his life, at least publicly, had become quite a circus. He seemed to spend a lot of time at his Neverland ranch, often entertaining children there and sometimes inviting them to sleep over. In 1993 he was accused of child molestation, a case the singer eventually settled. A highly scrutinized marriage to Lisa Marie Presley followed. Then more sexual abuse charges surfaced in 2003, resulting in a notorious trial and acquittal in 2005.

Shocking Death & The Still-Emerging Michael Jackson Legacy:

Though Michael Jackson has been known for pretty much anything and everything under the sun besides music for the past 15 years or so, his accomplishments during the '80s will always remain some of the most impressive in music history. For better or worse, Jackson came to define what it meant to be a star in the modern world, and it can certainly never be said that his public life has ever been boring. That statement remained eerily true all the way up to Jackson's unexpected death on June 25, 2009 in Los Angeles, where he had been preparing for a series of comeback concerts set to begin in London in July 2009.





Sabtu, 02 Mei 2009

Profil Andrea Hirata

0 komentar
“Aku Ingin Menulis Buku Ilmiah”


Semua berawal dari Laskar Pelangi , novel berdasar memoar masa kecil yang ditulis lelaki berambut ikal penyandang nama panjang Andrea Hirata Seman Said Harun. Sejak itu, lelaki ini jadi ketagihan menulis (fiksi). Ia melewatkan malam-malam insomnianya dengan menulis. Saat menulis itu, ia seperti orang “kesurupan”.

Kata demi kata mengalir deras dari ujung-ujung jarinya, menjelma kalimat-kalimat dan bermuara pada sebuah kisah panjang dengan tokoh utama Ikal. Tiga judul buku–dari empat yang direncanakan–telah lahir dari tangannya. Dua di antaranya, Laskar Pelangi dan Sang Pemimpi , sudah dilepas ke pasar dan menuai sukses lumayan. Berbagai pujian dan kritikan dari sidang pembaca diterimanya dengan senang hati. “Sebetulnya, Laskar Pelangi adalah buku keduaku. Buku pertama yang kutulis adalah buku ilmiah berjudul The Science of Business . Buku itu kutulis tahun 2003”, jelas Andrea mengenai perjalanan riwayat kepenulisannya.

“Buku itu semacam pembayar kewajiban moralku kepada Uni Eropa, lembaga yang memberiku beasiswa kuliah di Sorbonne (Prancis) dan Sheffield (Inggris),” tambahnya lagi.

Ya, Andrea memang sangat menggemari sains. Lantaran itu, ia sangat berharap satu hari nanti bisa kembali menulis sebuah buku sains, bukan cuma sastra.

“Segala hal yang berhubungan dengan sains dan buku selalu menarik perhatianku,” katanya.

“Apa jadinya jika Newton tidak menulis Principia ? Atau Adam Smith tidak pernah menelurkan The Nature and Causes of The Wealth of Nations ?,” sambungnya lagi.

Tetapi, kemudian bukanlah salahnya jika ia malah dikenal lebih dulu sebagai penulis fiksi lewat debutnya Laskar Pelangi . Mulanya, Andrea tidak pernah meniatkan naskahnya untuk dikomersilkan lewat industri buku. Ia menulis memoar itu untuk dipersembahkan sebagai kado ulang tahun bagi gurunya tercinta, Ibu Muslimah. (Dalam Laskar Pelangi , ibu guru ini adalah seorang tokoh yang sangat inspiratif, seorang guru miskin di sebuah sekolah dasar miskin di Belitong yang mendidik murid-muridnya dengan penuh kecintaan. Kabarnya, Ibu Muslimah tengah diusulkan untuk mendapatkan Ma’arif Award). Entah bagaimana ceritanya, naskah itu lalu “dicuri” oleh seorang sahabatnya dan diserahkan kepada penerbit. Penerbit yang beruntung ini, Bentang, langsung jatuh cinta dan lantas menerbitkannya.

Menyusul buku pertamanya, Andrea lantas menulis sekuelnya, Sang Pemimpi. Masih berkisah seputar sekolahan, buku keduanya ini pun terbilang sukses. Lagi-lagi ia mendapatkan setumpuk pujian sekaligus kritikan yang disikapinya dengan bijaksana.

“Aku tidak besar kepala karena pujian, dan ingin belajar dari pujian,” ujarnya. “Dan aku sangat terbuka terhadap berbagai kritik. Sayangnya, dari banyak kritik yang kuterima, belum ada yang benar-benar menyentuh sebstansi. Kecuali dari Prof. Sapardi Djoko Damono dalam sebuah diskusi di Bandung.”

Menurut lajang kelahiran 24 Oktober (tahun kelahirannya dirahasiakan) ini, kritik-kritik tersebut lebih banyak berbicara di permukaan. Meski demikian, ia sangat berterima kasih untuk segala masukan itu dan selalu menyambut gembira pihak yang mengundangnya untuk diskusi. Terakhir, ia diundang oleh Fakultas Sastra Universitas Diponegoro, Semarang, dan Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, Depok (Bogor). Total selama karier kepenulisannya, ia telah menerima undangan diskusi sebanyak 43 kali.

Apa mau dikata, Andrea Hirata akhirnya dengan sadar menjerumuskan diri ke dalam penulisan buku fiksi. Sejatinya, Laskar Pelangi merupakan buku pertama dari sebuah karya tetralogi. Setelah Sang Pemimpi , berikutnya berturut-turut akan terbit dua judul lagi, yakni: Edensor dan Maryamah Karpov yang dinanti-nanti para pembaca setianya.

Ekor kesuksesan Laskar Pelangi ditandai pula oleh diterbitkannya buku tersebut dalam edisi bahasa Melayu di Malaysia. Konon menjadi best seller di negeri jiran itu. Berkah lainnya adalah sudah ada pula tawaran untuk mengangkat kisah Ikal dkk ini ke layar lebar. Gosipnya, sutradara bertangan dingin, Riri Reza, yang akan menggarapnya. Kita tunggu saja, ya.

Kiranya Laskar Pelangi menjadi pintu pembuka bagi pria lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) ini untuk masuk lebih jauh lagi ke “jalan sunyi” sastra. Laskar Pelangi pula yang telah membuatnya menjadi semacam selebritis di jagad sastra, meskipun ditampik mati-matian oleh yang bersangkutan.

“Tidak ada pengaruh apapun (ketenaran itu- red ), kecuali makin sibuk dan kesulitan mengatur jadual kerja kantor dengan kegiata buku”, tandasnya buru-buru.

Namun Andrea harus mengakui, bahwa lantaran Laskar Pelangi cita-citanya membuka perpustakaan di kampung halamannya terwujud sudah. Perpustakaan itu menjadi tempat orang belajar ilmu (pengetahuan) dan agama Islam. Perpustakaan ini membuka diri bagi para relawan yang ingin bergabung.

Terlahir sebagai anak keempat dari pasangan N.A. Masturah (ibu) dan Seman Said Harun (ayah), Andrea Hirata menghabiskan masa kecilnya di Belitong. Setamat SMA, ia merantau ke Jawa, melanjutkan studi di FE-UI. Seusai meraih gelar sarjana ekonomi seperti telah ditulis di atas, ia berhasil mendapatkan beasiswa dari Uni Eropa untuk mengambil gelar master di Universite de Paris Sorbonne, Perancis serta Sheffield Hallam University, di Inggris. Ketika ditanya soal rencana menikah, sambil tertawa ia menyahut santai, “Menikah? Ha… ha… ha… sampai saat ini terpikirkan pun belum.”

Begitulah. Rupanya pernikahan masih jadi sesuatu yang belum jelas baginya. Namun, yang jelas, para penggemarnya, akan segera dapat menikmati Edensor , buku ketiga dari rangkaian tetralogi Laskar Pelangi . Masihkah bercerita tentang sekolahan?

“Ya. Edensor memilik garis merah yang tebal soal pendidikan. Tapi ada juga petualangannya. Tokoh-tokohnya masih tokoh sama dengan buku sebelumnya. Hanya saja sekarang mereka makin dewasa . Edensor adalah buku yang berusaha bercerita dengan jujur ihwal orang Indonesia ketika terdampar di negeri Barat,” Andrea memberi sedikit ‘bocoran’ karya terbarunya. Kedengarannya menarik ya? Kita sama-sama lihat saja nanti.


Biodata singkat : Nama : Andrea Hirata Seman Said Harun

Tanggal lahir : 24 Oktober

Pendidikan : S1 Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia S2 Universite de Paris Sorbonne (Perancis) dan Sheffield Hallam University (Inggris).

Pekerjaan : Staf PT Telkom, Bandung.

Sumber :http://perca.blogspot.com/2007/06/profil-andrea-hirata.html

Followers

 

Knowledge Is Power. Copyright 2008 All Rights Reserved Revolution Two Church theme by Brian Gardner Converted into Blogger Template by Bloganol dot com